jump to navigation

Sang Dermawan (Part 1) Agustus 8, 2011

Posted by azkyalfahd in Refleksi.
trackback

Sang dermawan itu kukenal dua tahun yang lalu. Beliau adalah sosok yang sangat pemurah dan ramah. Usianya sekarang menginjak 40 tahunan namun wajahnya tidak menunjukkan usia yang sebenarnya. Hari itu aku menemuinya untuk membantu adikku yang sedang kebingungan mencari dana untuk acara haflah imtihan (sebuah acara kenaikan kelas/akhir tahun) di sekolahnya. Aku pun meminta seberkas proposal darinya dan bergegas pergi ke rumah sang dermawan di sore hari.

Kami berjanji untuk bertemu bakda maghrib. Di siang harinya aku mengantar ibuku ke rumah saudaraku yang akan menikah. Tepatnya di Riung Bandung. Setelah itu aku menemui temanku di kampus BSI di jalan Antapani, lalu bergegas pergi ke daerah Cibaduyut menemui sang dermawan. Sebelum waktu maghrib aku sudah sampai di komplek Sauyunan Mas.  Rumahnya yang besar kulewati, aku mengarah ke masjid. Di masjid hanya kutemukan sang qoyyimul masjid yang hendak mengumandangkan adzan maghrib. Sambil menunggu aku pun berwudlu dan melaksanakan sholat tahiyyatul masjid. Usai melaksanakan sholat maghrib berjamaah aku pun melaksanakan sunnah bakda mahrib. Aku melihat suami sang dermawan berada di dalam ruangan masjid namun beliau sedang melaksanakan sholat sunnah. Jadi aku pun tidak ingin mengganggunya (padahal malu ketemu,hehe). Aku pun keluar dan membuka telepon selularku. Satu pesan dari sang dermawan. Aku pun membaca: “Ka Zaki, gimana kalau besok saja ketemunya ya?”. Aku pun membalas dan mengiyakan namun aku punya satu permohonan bagaimana jika proposalnya diberikan hari ini ke suaminya dan aku akan mengambil infaqnya keesokan harinya. Eh malah beliau meneleponku secara langsung dan mengatakan aku harus ke rumahnya karena tadinya beliau tidak mengetahui aku sudah sampai di komplek sauyunan. Aku pun langsung menuju rumahnya. Kuketuk pintu depan dan tak lama kemudian pintu terbuka dan sebuah senyum khas menyapaku memberikan ucapan selamat datang, mantan murid privatku yang merupakan anak sang dermawan. Kuucap salam dan dia membalas. Dia mencium tanganku. Kami pun berbincang sebentar dan sejurus kemudian sang dermawan datang dengan senyum yang lebar dan mengungkapkan kerinduannya akan kedatanganku karena memang kami cukup lama tidak berjumpa. Sudah lama ya kita nggak ketemu. Iya bu, sudah lama kapan ya terakhir kita ketemu?. Kami berbincang ngalor-ngidul dan aku pun mengutarakan kedatanganku dan menyampaikan tentang proposal dari adikku. Tak lama kemudian dia pun memberikan uang sebesar Rp.400 ribu. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa membantu banyak. Aku pikir wah kalau tidak bisa membantu banyak saja sudah sebegitu banyak, apalagi kalau bisa membantu banyak. Aku sangat iri dengan ibu ini. Beliau tidak silau dengan harta. Beliau mengatakan bahwa bukankah kita hanya dititipi oleh Alloh dan diri  kita pun hakikatnya adalah milik Alloh?. Aku sangat cemburu dengan penghayatannya akan kehidupan dan rasa syukurnya kepada Alloh jauh dibandingkan aku.

Saat aku berbincang dengan beliau tiba-tiba entah mengapa aku teringat akan istri teman kakak iparku yang mengidap kanker stadium akhir. Aku tahu ia sedang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Aku pun menceritakan kisah si pasien yang sudah parah keadaannya. Beliau pun langsung mengiyakan saat aku menawarkan dirinya untuk menjadi donatur. Iya saya mau saya mau. Ka zaki, ayah saya juga dulu mengidap penyakit kanker paru-paru. Dari ceritanya yang panjang lebar aku tahu selama satu tahun setengah beliau merawat dan mengasuh ayahnya. Usahanya saat itu pun menurun 80 persen. Sebutir obat yang harus dibeli harganya sebesar 500 ribu. Untuk obat saja dia harus menghabiskan 20 juta. Dengan beban yang begitu berat beliau hanya bisa menangis di hadapan Alloh. Beliau tidak pernah mengatakan penyakit sebenarnya kepada ayahnya. Saat perawat datang ke kamar, beliau lari ke ruang pasien dan mewanti-wanti agar sang perawat dan dokter tidak pernah mengatakan penyakit ayahnya yang sebenarnya (KANKER). Beliau naik turun tangga saat ada pelayat yang berkunjung. Mengapa? Untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang akan memberitahu ayahnya  tentang penyakitnya. Beliau hanya ingin ayahnya mendengar yang manis-manis saja bukan yang pahit-pahit. Aku melihat beberapa bulir air mata dari wajahnya saat beliau bercerita mengenai ayahnya yang akhirnya meninggal di pangkuannya. Saat ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya beliaulah yang membacakan laa ilaaha illalloh……

Subhanalloh Alloh memang Maha Membalas kebaikan.. Mukjizat Alloh terjadi beberapa bulan setelah sang ayah meninggal. Usaha produksi spare partnya  yang hampir bangkrut meningkat. Order datang dari mana-mana. Seolah air mata selama satu tahun lebih yang telah kering terbalas dengan hujan rezeki dari Alloh hendak membalas kebaikan anak dan bakti seorang anak kepada orang tua. Beliau mampu pergi haji, rumah yang baru dibangun, karyawan-karyawannya yang berjumlah tiga puluh orang pun sejahtera. Padahal sebelumnya beliau merencanakan akan merumahkan karyawan tersebut. Malahan karyawannya yang meminta untuk dirumahkan karena mereka merasa mereka digaji namun tidak bekerja. Hanya mengecek kualitas barang saja tanpa ada pesanan dari luar. Inilah contoh pemimpin yang dicintai bawahannya. Aku ingin menjadi seperti beliau.

Keesokan harinya aku datang dengan kakak iparku hendak mengambil dana yang sudah dijanjikan sang dermawan. Aku datang sore hari sekitar pukul 15.30 namun beliau belum datang juga. Ternyata mereka sedang mengantar anaknya belajar menyetir sekalian mengambil uang dari ATM. Tak lama kemudian kami pun larut dalam perbincangan dengan sang dermawan mengenai penyakit kanker, kisah ayahnya dan kisah teman kami yang masih menderita kanker. Lalu sejurus kemudian beliau memberikan amplop yang tebal. Ini kak, saya tidak bisa membantu banyak, saya merasakan sekali apa yang dirasakan pasien dan orang yang berada di sampingnya. Saya yakin hal itu sangat berat karena saya pun pernah mengalaminya. Mudah-mudahan uang 5 juta ini bisa sedikit membantu dan meringankan beban pasien dan orang yang merawatnya. Hatiku bergetar hebat. Aku pikir ibu tidak akan menyumbang sebesar itu. Aku seperti berada di dalam sebuah sinetron tentang orang kaya yang sangat dermawan dan sukses. Beliau melanjutkan ucapannya “Bagi saya harta itu titipan Alloh dan saya juga selalu ingat bahwa saya juga sedang mengantri untuk menemui Alloh SWT. Jadi semua harta itu tidak ada gunanya, saya hanya mengelola titipan Allloh itu supaya menjadi amal sholih. Saya kira saya cukup bahagia dengan kehidupan saya saat ini bersama suami saya. Saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika kami bisa merawat ayah dengan baik dan hingga akhir ajalnya beliau ridlo dan saya ridlo kepada beliau beserta ujian dari Alloh SWT dan saya kira barokah Alloh datang setelah ayah saya wafat, saat itu adalah tonggak sejarah bagi saya untuk yakin dan tak ragu sama sekali dengan ketentuan Alloh, Insya Alloh...Setiap kebaikan sekecil apapun akan ada balasannya.. Hanya waktunya saja yang berbeda-beda.. Subhanalloh… hati saya terenyuh masuk ke dalam haru yang luar biasa.. I was so speechless. Jika hatiku mempunyai mata,  kuyakin mata itu sudah berlinang deras air mata. Ya Alloh jadikanlah aku orang yang dapat bersyukur dan meneladani sang ibu yang dermawan. Jadikan pula aku anak yang berbakti kepada orang tuaku.. Amien..

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: